Selasa, 23 Agustus 2016

Cerita Pengalamanpelayanan bapa Ruben Suhuniap dalam pengabdian di POs PI Efata Angguruk Pedalaman Papua, Distrik Angguruk Kabuapten Yahukimo Papua


Ketika saya menjumpai seorang tenaga medis yang  berhati pelayan di Bandara Internasional Soekarno Hatta Tangeran  Jakarta Indonesia,  Dia adalah Medis bapa Ruben Suhuniap, sapaan akrabnya paman Rusu. Paman Rusu menceritakan banyak hal dalam pelayanan hidupnya sebagai tenaga kesehatan (matri), bertugas di Pos GKI
Anggruk, Distrik Anggruk Kabupaten Yahukimo pedalaman Papua.  Ketika itu dia mengatakan bahwa, saya tidak perna keluar kota seperti kota Jayapura, apalagi datang ke kota Jakarta hari saya ada disini. Pada tahun lalu ke Jerman itupun diundang resmi oleh Swuellem di Jerman atas kemitraan GKI ditanah Papua.  Kali ini  diundang saya dapat undangan dari Kementerian Kesehatan RI bekerja sama dengan dinas kesehatan Provinsi Papua dan Dinas kesehatan Kabupaten Yahukimo Papua memberikan saya kesempatan untuk ikut kegiatan pembekalan.
Dalam ceritanya,  saya menjalani  bekerjaan sesuai dengan tugas poko saya, dalam komitmen saya, apa arinya saya ada,  apa artinya  saya sekolah dan ditempati di daerah sendiri lagi,  jadi kita sebagai anak daerah, kita tidak bisa merusak daerah sendiri tetapi mengangkat daerahnya, pada akhirnya dalam pengabdian saya kurang lebih 24  tahun, terdiri dari  semenjak saya menjadi honor atau sebagai  tenaga kesehatan  sukarelawan 2 tahun di Distrik Angguruk, dan  star bekerjaan saya sebagai pegawai negeri  sipil 22 tahun, menjadi 24 tahun mengabdi di rumah sakit Pos PI Efata Anggruk daerah Kabupaten Yahukimo Distrik Anggruk pedalaman Papua. Nah, selama itu saya tidak pernah keluar  dari pos pengabdian saya sebagai alasan perjalanan dinas atau  jalan-jalan ke kota besar seperti kota Wamena, Jayapura, bahkan ke Kabupaten kota Yahukimo sendiripun tidak pernah, mungkin datang ke Kabupaten kota hanya keperluan penting, seperti stouk obat-obatan habis  atau urusan yang urgens, jikalau urusan yang tidak penting saya memilih tinggal peta memfokuskan diri melayani masyarakat, karena  tenaga medis baik dokter maupun tenaga matri dan  suster kurang, walaupun ada yang ditugaskan didaerah pedalaman disana, namun sebagaian besar tidak peta tinggal ditempat tugas, mereka memilih tinggal dipusat kota, menerima hasil gaji buta, sehingga rumah sakit besar di Efata Angguruk itu hampir semua bidang saya yang mengontrol dan melayani setiap pasien di ruangan, dan juga pelayanan gereja di sekolah minggu di jemaat gereja Efata, tetapi puji Tuhan tahun ini saya punya 1 tenaga dokter umum,  dan 7 tenaga kesehatan.
Ketika ditanya, bagaimana jika bapa ditawarkan masuk sebagai politisi di Daerah atau ditawarkan jabatan tertentu  selain dalam  jabatan manajemen kesehatan di dalam birokrasi Pemerintahan Kabupaten Yahukimo Papua.
Beliau menjawab simple,  bahwa saya mau bekerja sebagai tenaga medis sampai pensionan, dan saya tidak mau beralih kebekerjaan lain, cukup saya bekerja miskin-miskin saja, bekerja dengan hati,  menerima hasil gaji dari pemerintah apaadanya,  daripada saya jadi hampa uang atau jabatan tertentu meninggalkan tempat tugas saya.
Pengalaman yang paling pengharga bagi saya, bahwa  Puji Tuhan penghargaan dari Tuhan lalu dapat piagam dari Presiden ke 6 SBY pada tahun 2011, dan pada tahun 2015 saya di beri kesempatan bersama pemuda GKI Klasis Yalimo,  badan bekerja Suwellem mitra kerja sama dengan Sinode GKI di Tanah Papua Klasis Yalimu dan  lewat bapa Natan Pahabol pada tahun 2015, saya tak punya modal  keterampilan bahasa Jerman, bahasa inggris tetapi ditunjuk ikut bersama 16 pemuda utusan GKI Klasis Yalimo yang berkunjung ke Benua Eropa diNegara Jerman, atas pertukaran Pemuda pada tahun 2015,  itulah  satu nilai yang saya catat dalam kisah hidup, kini pada bulan agustus ini saya tidak perna dimembayangkan punya dari Ibu Menteri Kesehatan Republik Indonesia  diundang langsung untuk ikut kegiatan Pembekalan dan leadership selama satu minggu di Jakarta, usai selesasi saya termasuk  salah satu tenaga medis yang mendapatkan penghargaan piagam dari Ibu Menteri Kesehatan,  dari sekian Persatuan Perawat Seluruh Indonesia (PPSI)  dan juga perawat teladan, berawal dari ini saya kembali ke tempat tugas saya di Anggruk menjalankan tugas sebagaimana mestinya. Saya menulis cerita ini bukan menyombongkan diri saya,  tetapi melainkan saya menceritakan seperti ini agar teman-teman lain bisa dapat termotivasi, setia kepada tugas dan tanggungjawab yang di berikan oleh Tuhan lewat pemerintah. Dan pada intinya apa artinya kita sekolah? Apa artinya kita di tempatkan di daerah kita, kampung kita, dan dimana saja kita tempatkan kita harus bekerja dengan hati yang pelayan,  bekerjaan apapun diberikan jangan bekerja bersungut-sungut, tetapi bekerjalah dengan hati yang tulus.
Ketika ditanya bagaimana selama ini kami mencermati, birokrasi Pemerintahan di Papua khusus daerah pegunungan tengah, untuk Kabupaten Yahukimo  tenaga fungsional masuk sebagai tenaga structural sehingga tidak tahu arah kerja mulai dari mana dan berakhir kemana, kadang-kadang orang itu  tidak tahu fungsi kerjanya, milsalnya, dari tenaga kesehatan/medis dari kepala daerah setempat diangkat sebagai Kepala distrik, dari tenaga guru diangkat sebagai kepala dinas kesehatan dan atau jabatan-jabatan tertentu dalam SKPD di daerah, maka kebanyakan malas bekerja, peta tinggal ditempat tugas  karena iri didalam  jabatan-jabatan tertentu, malas karena motivasi kerja kurang, kadang terdorong atas penghasilan sebulan tidak mencukupi keluarga  bekerjaannya….Bagaimana dinamika yang terjadi seperti ini?
Beliau menjelaskan bahwa, selama ini uang yang mengistir orang, bukan manusia yang mengatur uang, ketika orang itu  telah mendapatkan uang segala kekayaan bawa kekota, dia lari ke kota,  karena  segala keenakan dikota, sehingga orang semua ke kota membangun rumah di kota, menghamburkan uang dikota, menikmati  kekayaan itu bawa kekota, padahal dia itu orang kampung, seharus ada dihonai bersama masyarakat,  artinya bahwa tenaga petugas tetap tinggal ditempat tugas. jadi,  hal-hal  seperti ini terbalik, tidak boleh perlakuan seperti ini, harus ada perubahan.  Jadi  saya harapkan kita harus sadar, komitmen, punya prinsip hidup, sekali lagi merubah, bodi badan tidak bisa dirubah tetapi sikap ini bisa dirubah, kita  harus takut Tuhan,  kita bukan dilayani tetapi tetapi kita ada untuk melayani”,  Tuhan Yesus  lahir dan Datang kedunia bukan untuk dilayani melainkan melayani, maka jangan melayani diri, melayanilah sesama dan melayani Tuhan.
Dengan demikian saya mengharapkan kepada kepemimpinan Bupati baru,  bapak Abuck Pusub dan  dan wakil Bupati Yulianus Heluka pada tahun 2017 ini sistem Pemerintah Kabupaten Yahukimo harus dirubah. Pemerintahan Kabupaten Yahukimo harus ditertibkan,   kembali harus dijalankan  sesuai dengan tugas  pokok,  dan fungsi kerja masing-masing. Saya mendesak Pemerintah segera  diperbaiki sistem pemerintahan di Kabupaten Yahukimo Papua selama ini kurang efektif, dengan membuat peraturan Daerah/Perda, Peraturan daerah Kabupaten dan  atau surat keputusan Bupati agar sistem praktek birokrasi seperti dijelaskan diatas tenaga kerja fungsional tidak  masuk dalam tenaga structural tidak bisa mengulangi lagi.  Jika system ini terus diterapkan  jangan harap petugas tenaga medis, guru, kepala desa, kepala Distrik, dan tenaga fungsional lainnya jangan harap tinggal  peta bekerja didaerah pedalaman Papua, jangan harap daerah kita maju, jangan harap ada berubahan dikapung kita, di distrik kita dan di Daerah kita Kabupaten Yahukimo, ada hanya ada dikota baku benci sesama anak daerah, hanya kejar jabatan kekayaan dan uang, serta  politis pratis yang tampak didaerah, inilah sering terjadi di daerah kita. Jadi, sekali lagi harapan saya tidak mengulangi praktek seperti ini lagi, Pemerintahan Kabupaten Yahukimo sekarang harus ada berubahan system secara total


Beliau Sarankan ‘Bekerjaan sekecil apapun Tuhan tidak buta, DIA selalu melihat, memperhitungkan tindakan kita, bekerjaan kita, pelayanan kita. Jika kita setia kepada perkara- perkara kecil, maka Tuhan akan mempecayakan kita pada  perkara-perkara yang besar”

Catatan; Semoga tulisan ini bukan kritikan, namun saran untuk dapat mengispirasi kita semua, waaa…waaa.waaa.


Penulis adalah Mahasiswa asal Yahukimo Studi diPulau Jawa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar